Lompat ke konten

Undangan Digital Adat Bali

Bali — Pulau Dewata

Poleng hitam-putih, endek, dan emas pura: sakral sekaligus elegan untuk pawiwahan.

16 templatePolengEndekPuraMotif PolengMotif EndekMotif Batik Cap

Kekarangan Bali

Om Swastiastu— Salam pembuka umat Hindu Bali (Sanskerta): Om (Sang Hyang Widhi), su (baik), asti (ada), astu (semoga) — 'semoga dalam keadaan selamat'.

Poleng hitam-putih, endek, dan emas pura: sakral sekaligus elegan untuk pawiwahan.

Busana adat

Payas Agung putri: gelungan petitis emas, garuda mungkur, kalung badong, kamen sabuk prada · Payas Agung putra: gelung/tajuk emas (geruda mungkur), kampuh, keris, bros besar · Payas Madya: kamben, kancrik, udeng · Payas Alit (paling sederhana) · Kamen dan sabuk prada

Iringan

Gamelan Gong Kebyar (gangsa, gong, kendang, suling) · Rindik — bilah bambu untuk penyambutan tamu

Tekstil khas

Kain gringsing · Endek · Kain poleng · Songket Bali

Elemen visual

Barong · Udeng · Kebaya Bali · Canang sari · Patra (motif daun)

Doa & restu adat Bali

Dipakai sebagai kutipan awal undangan bertema budaya ini — sesuai keyakinan Hindu.

  • Om Awighnamastu Namo Siddham.

    Doa · Mantra pembuka upacara Hindu Bali

    Semoga tidak ada rintangan; semoga yang dimulai berjalan siddha (sempurna).

  • Om Shanti Shanti Shanti Om.

    Doa · Mantra penutup upacara Hindu Bali

    Damai di dunia, damai di antara manusia, damai di hati.

  • Tri Hita Karana — harmoni dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam.

    Adat · Falsafah Hindu Bali

    Kebahagiaan lahir dari tiga hubungan yang dijaga: dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan alam.

Rangkaian adat Bali

10 tahap dari riset bersumber (6 sumber) — urutan ini yang dipakai di undangan.

Pra-acara

  1. 1.Madewasa Ayu

    Kedua keluarga bersama-sama menentukan hari baik untuk seluruh rentetan upacara, dari nyedek sampai acara inti, berdasarkan perhitungan ala ayuning dewasa pada kalender (wariga) Bali. Masyarakat Hindu Bali masih menjadikan ala ayuning dewasa sebagai pedoman karena diyakini memengaruhi kelancaran upacara dan kehidupan setelah pernikahan.

    Dipimpin: Kedua keluarga, dibantu orang yang memahami wariga/dewasa ay.

  2. 2.Ngidih

    Prosesi lamaran. Pihak pria membawa seserahan bernama basan pupur, dimaknai sebagai penghormatan kepada calon pengantin, pengganti air susu ibu, dan pengganti kasih sayang ayah yang merawat mempelai perempuan.

    Dipimpin: Utusan/keluarga pihak pria

  3. 3.Ngekeb

    Calon pengantin perempuan dipersiapkan menyambut kedatangan calon pengantin pria: persiapan mental, doa kepada Ida Sang Hyang Widhi agar dianugerahi kebahagiaan lahir-batin, serta perawatan fisik seperti luluran dan mempercantik diri.

    Dipimpin: Keluarga perempuan; pemangku/rohaniwan untuk doa

  4. 4.Acara Pengambilan

    Calon pengantin perempuan dijemput keluarga calon pengantin pria menuju kediaman pria. Ia mengenakan pakaian tradisional Bali yang diselimuti kain tipis kuning dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlambang siap meninggalkan masa lajang.

    Dipimpin: Keluarga pihak pria

  5. 5.Mungkah Lawang

    Secara harfiah 'membuka pintu'. Utusan pihak pria mengetuk pintu kamar pengantin perempuan, diiringi tembang-tembang Bali sebagai isyarat kedatangan pihak pria, sebelum membawa pengantin menuju rumah.

    Dipimpin: Utusan pihak pria

  6. 6.Mesegeh Agung

    Ungkapan selamat datang sebelum kedua pengantin masuk rumah pengantin pria. Kain kuning yang menyelimuti pengantin perempuan dilepas, lalu calon ibu mertua menukarnya dengan uang satakan sebagai harapan menyambut dunia baru.

    Dipimpin: Ibu mertua (calon)

  7. 7.Mabyakala (Mekala-kalaan)

    Penyucian lahir-batin kedua calon pengantin, terutama pada sukla swanita, agar kelak menghasilkan janin suputra. Rangkaiannya: puja astuti, membakar tetimpug, menghadap banten pabyakalaan, pengelukatan, mengelilingi banten pesaksian, dan medagang-dagangan.

    Dipimpin: Pemangku/rohaniwan

Akad / pemberkatan

  1. 8.Mewidhi Widana

    Kedua calon pengantin bersembahyang di merajan atau sanggah keluarga pria. Maknanya menyampaikan kepada leluhur bahwa ada pendatang baru dalam keluarga, sekaligus menandai sahnya pernikahan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adat, dan masyarakat. Pada tradisi Hindu Bali inilah pengesahan religius pernikahan (padanan akad).

    Dipimpin: Pemangku sanggah, sulinggih, atau ida pedanda

Resepsi

  1. 9.Resepsi/hajatan

    Sumber yang dirujuk merinci upacara adat sampai mejauman, tetapi tidak memberi nama tahap khusus untuk resepsi. Dalam praktik, hajatan/resepsi digelar terpisah dari upacara inti; nama dan urutannya berbeda antardaerah di Bali, sebagaimana ditegaskan bahwa tiap daerah memiliki upacara tambahan yang berbeda.

    Dipimpin: Keluarga penyelenggara

Pasca-acara

  1. 10.Mejauman

    Kedua pengantin bersembahyang di merajan/sanggah keluarga perempuan sebagai isyarat berpamitan pengantin perempuan kepada leluhurnya, karena ia sudah menikah dan mengikuti keluarga pria. Banten yang dipakai antara lain alem, ketipat bantal, sumping, cerorot, apem, kuskus, wajik, kekupa, aneka buah, dan lauk khas Bali.

    Dipimpin: Pemangku/rohaniwan keluarga perempuan

Catatan adat

  • Menikah pada masa Rangda Tiga, yaitu wuku Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail, dan Prangbakat; dipercaya pernikahan akan selalu gagal (tiga kali menjadi janda/duda).
  • Menikah pada masa Uncal Balung, dari Galungan sampai Buda Kliwon Pahang (Pegatwakan), karena energi kosmik dianggap tidak stabil dan dapat memengaruhi jalannya upacara.
  • Menikah pada Ingkel Wong, yaitu wuku Sinta, Wariga, Langkir, Tambir, dan Bala; ingkel berarti pantangan, dan ingkel wong adalah hari yang tidak baik untuk pekerjaan penting yang berkaitan dengan manusia (pernikahan, poto.
  • Menikah pada Was Penganten (antara lain Minggu Kliwon dan Jumat Pon wuku Tolu, Minggu Wage dan Sabtu Kliwon wuku Dungulan, Minggu Umanis dan Sabtu Pahing wuku Menail, Minggu Pon dan Sabtu Wage wuku Dukut).

Simbol & makna

Poleng

Kotak-kotak hitam-putih — konsep Rwa Bhineda: dua hal berlawanan yang harmonis menciptakan keseimbangan.

Endek

Tenun ikat Bali; motif Patra dan Encak Saji dahulu hanya untuk bangsawan dan upacara keagamaan.

Gringsing

Tenun ikat ganda Tenganan: 'gring' (sakit) + 'sing' (tidak) = penolak bala, dipakai dalam upacara termasuk pernikahan.

Prada

Kain/kemasan benang emas — kemuliaan dan kehormatan pada upacara besar.

Siap pakai template Bali?

Daftar gratis, pilih template, isi form, upload foto — undangan tayang dalam hitungan menit.

Mulai gratis